Showing posts with label articles 1. Show all posts
Showing posts with label articles 1. Show all posts

CAPEK ‘BERKELAHI’

CAPEK ‘BERKELAHI’

Mirip dengan sebuah rumah tangga, kadang perusahaan berisi orang – orang yang sudah capek untuk berkonfrontasi, walau sering kali itu penting untuk menemukan kebenaran. Kalau itu bukan sesuatu yang sangat penting atau prinsipil, mereka sering menerima suatu kondisi begitu saja untuk ‘kedamaian’ mereka atau perusahaan. Namun pertanyaannya: apakah hal – hal kecil itu tidak penting dan bukankah sering kali merefleksikan sesuatu yang prinsipil? 

Suatu contoh: saat ada seorang anggota tim yang mestinya diminta untuk memberikan eksternal email kepada rekannya, namun malah memberikan dalam bentuk internal email; maka itu adalah sesuatu yang penting untuk dibicarakan atau dikonfrontasikan karena itu merefleksikan ada sesuatu yang keliru dalam komunikasi (miscommunication) yang sangat berpotensi untuk memberikan ruang kepada salah paham (misunderstanding) dan ketidakpercayaan (mistrust). Kalau kita menghindari tindakan mengkonfrontisir hal ini, maka saya tidak heran akan ada kejadian lagi dan semakin lama komunikasi di perusahaan akan semakin buruk.

Kita tidak bisa menganggap enteng hal – hal yang kecil. Kadang hal yang kecil merefleksikan hal – hal yang besar. Isu tentang kebersihan, kerapian dan kedisiplinan, bukan hal yang kecil dan sederhana yang bisa kita abaikan. Sering kali seorang karyawan atau profesional tidak memperhatikan hal – hal ini, namun ketika giliran mereka memiliki perusahaan sendiri, baru mereka sadar pentingnya hal – hal yang kecil.

Jangan meremehkan Atasan atau Bos yang mempermasalahkan hal – hal yang kecil karena dari yang kecil, kita dipercaya yang besar. Jangan capek mempermasalahkan hal – hal yang kecil tapi penting. Percayalah, suatu kali nanti kita akan melihat bahwa apa yang kita perjuangkan akan memberikan hasil yang tidak ternilai harganya (intangible).
-----------------------------------------------------------

PERCOBAAN 3 BULAN

PERCOBAAN 3 BULAN

Pengalaman dengan sopir pribadi saya menunjukkan suatu pemahaman yang berbeda tentang kemampuan manusia. Sebagai lulusan SD, rekan saya ini bukan orang yang akan mampu memahami beberapa hal sekaligus; namun yang membanggakan adalah dia mampu mengendarai mobil dengan baik dalam waktu sebulan saja. Saat ini dia bisa mengemudikan mobil dengan kecepatan 80 km/ jam dan bisa sampai dari Mulyosari (Surabaya Timur) ke Sepanjang (Sidoarjo) hanya dalam waktu 60 menit (bandingkan dengan kecepatannya di awal – awal dia mengendarai).

Bukannya dari turun langit tentang kemampuannya itu; tetapi merupakan hasil tempaan saya kepadanya setiap hari. Mulut saya tidak berhenti untuk memberikan masukan apabila ada hal yang dilakukan dengan tidak benar. Apabila diperlukan, saya akan berbicara dengannya di ruangan kantor saya untuk memberikan pemahaman dan harapan saya akan kemampuannya. Secara umum, dia lupa tidak mengunci pintu, tidak membuka pintu saat saya akan masuk, tidak menyalakan AC, dan sebagainya; tetapi saya tidak mau mendiamkan dan terus memberikan umpan balik. Saat ini saya tinggal menuai ‘hasil karya’ saya untuk membentuk kompetensi menyetirnya.

Banyak orang mempertanyakan waktu percobaan 3 bulan dan mengkritisi Depnaker yang tidak memahami proses bisnis dalam perusahaan. Pertanyaan saya: kalau itu adalah given, lalu mengapa kita tidak bisa menerima dan menyesuaikan diri? Bagaimana caranya memahami kemampuan seseorang dalam waktu 3 bulan, itulah pertanyaan penting yang seharusnya diajukan Manajer kepada dirinya.

Banyak manajer tidak memberikan umpan balik apapun kepada karyawan barunya dan ketika tiba waktu penilaian, mereka tidak siap dan menyalahkan keadaan (atau HRD) yang tidak mendukung mereka. Well, seperti yang kita yakini bahwa sikap yang ekselen adalah sikap yang mau mengambil tanggung jawab. Adalah tanggung jawab kita untuk memperhatikan kompetensi karyawan baru kita, dari hari ke hari, minggu ke minggu dan bulan ke bulan. Beberapa manajer sok sibuk akan berkata bahwa pekerjaan dia tidak hanya mengurusi orang itu saja.

Sungguh aneh! Manajer yang sama yang meminta orang, manajer yang sama yang tidak memperdulikan orang itu. Manajer yang tidak peduli SDM-nya adalah manajer yang merugikan perusahaan, tidak mengukur proses pembelajaran yang efektif dan efisien. Mereka membiarkan waktu berlalu begitu saja dan tidak ada umpan balik untuk memberikan tindakan perbaikan ata kinerja karyawan. Karyawan yang jarang menerima umpan balik akan cenderung susah dikembangkan karena mereka akan resisten dengan masukan. Memang kita bisa memberikan pembinaan dan melakukan PHK, akan tetapi ujung – ujungnya perusahaan lagi yang dirugikan dalam hal waktu (masa percobaan, pelatihan), tenaga (jasa HRD untuk mengurusi masalah perselisihan industrial) dan uang (biaya tenaga kerja, pesangon, dsb.).
------------------------------------------------------------------

KASIHAN BUKANLAH SOLUSI DALAM ORGANISASI

KASIHAN BUKANLAH SOLUSI DALAM ORGANISASI

Kerap kali kita memberikan rasa kasihan kepada rekan atau bahkan atasan, ketika mereka mengalami masalah, namun itu bukanlah solusi. Adalah baik untuk memahami suatu permasalahan dan penyebabnya, itu adalah empati, namun itu bukanlah solusi. Kalau kita sering melakukannya, itu tidak akan membuat organisasi kita menjadi lebih baik, malahan lebih buruk karena tidak ada solusi yang ditawarkan.

Ketika job description diolah sedemikian rupa dalam proses job evaluation, maka setiap jabatan memiliki harga (dalam bentuk range) dan orang yang memegangnya akan mendapatkan penghargaan sesuai dengan kompetensi dan kalibernya. Apabila orang tersebut semakin kompeten, maka tentunya upah yang diberikan manajemen kepadanya akan semakin besar dan apabila perlu, perusahaan mempromosikan yang bersangkutan.

Ketika ada karyawan atau atasan yang tidak kompeten, yaitu mereka tidak mampu menyelesaikan tugas pekerjaan yang diembannya atau tidak mampu mengelola banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan, maka perusahaan akan memberdayakan mereka melalui pelatihan, coaching atau counselling kalau memang masalahnya adalah non teknis. Mengasihani mereka adalah tataran emosional kita dan cenderung membiarkan orang tersebut tidak mengambil tangung jawab. Ketika mereka mendapati bahwa tidak bertanggung jawab bukanlah masalah, mereka akan menyukai kondisi itu dan menginginkan pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih banyak supaya orang lebih kasihan lagi kepada mereka.

Setiap karyawan dibayar untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawab yang sesuai dengan harga jabatannya dan setiap mereka harus mempertanggungjawabkan hal itu kepada Tuhan dan sesamanya. Yang diperlukan apabila mereka kesulitan adalah pemberdayaan atau bila perlu restrukturisasi, bukan kasihan.
----------------------------------------------------------------------------------